wartaperang - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan hari Kamis(6/12/2014) bahwa perebutan spektakuler kota-kota Irak dengan kemajuan para pejuang jihad adalah tanda yang jelas dari "gagal totalnya" invasi pimpinan AS.

"Peristiwa-peristiwa di Irak menggambarkan kegagalan total petualangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Inggris", kantor berita Rusia mengutip Lavrov mengatakan, mengacu pada invasi tahun 2003 yang menyebabkan jatuhnya diktator Irak Saddam Hussein.

"Kesatuan Irak beresiko".

"Kami sangat khawatir dengan apa yang terjadi di Irak. Kami telah lama memperingatkan bahwa petualangan yang dilakukan oleh Amerika dan Inggris tidak akan berakhir dengan baik".

"Kami berdiri dalam solidaritas dengan para pemimpin Irak, rakyat Irak yang harus memulihkan perdamaian dan keamanan di negara mereka, tetapi tindakan mitra Barat kami menyebabkan sejumlah besar pertanyaan".

Pejuang dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah mempelopori serangan besar yang dimulai Senin malam, menduduki beberapa provinsi. Pada hari Kamis mereka mulai maju menuju Baghdad.

Amerika Serikat mengatakan "siap" untuk membantu Irak, sementara Inggris mengatakan tidak akan mengirim pasukan kembali ke negara yang dilanda perang.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan pada hari Rabu bahwa pemberontakan menjadi bukti bila perang sipil di Suriah "menginfeksi" wilayah tersebut.

Lavrov mengatakan komentar Den Haag adalah sinisme yang terlalu tinggi.

"Kami sudah tahu bahwa rekan-rekan Inggris kami memiliki kemampuan unik untuk mendistorsi apa saja dan segalanya tapi bahkan saya tidak mengharapkan sinisme dari mereka", katanya kepada wartawan.

Lavrov secara terpisah membahas Irak dengan sejawatnya dari Suriah Walid Muallem, kata kementerian luar negeri Rusia.

sumber: alarabiya

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top