Courtesy of Zaman Alwsl
wartaperang - Pasukan Tunisia menewaskan sembilan gerilyawan dalam serangan di wilayah selatan sebagai bagian dari tindakan keras menyusul serangan terhadap museum Tunis Bardo yang menargetkan wisatawan asing, kata seorang pejabat kementerian dalam negeri pada hari Minggu.

Operasi Sabtu malam di wilayah Gafsa terjadi beberapa jam sebelum ribuan warga Tunisia diharapkan untuk bergabung bersama pemimpin dunia termasuk Presiden Prancis Francois Hollande dalam pawai solidaritas di Tunis.

"Pasukan kami membunuh sembilan teroris dalam operasi besar di Sidi Aich di Gafsa. Mereka juga menyita senjata dan bahan peledak," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mohamed Ali Aroui.

Dua orang bersenjata menewaskan 21 turis di Museum Bardo hampir dua minggu yang lalu, di salah satu serangan terburuk di negara Afrika Utara yang sebagian besar menghindari kekerasan sejak pemberontakan terhadap otokrat Zine El Abidine Ben Ali 2011.

Seorang warga Perancis keempat meninggal karena luka-nya setelah serangan 18 Maret terhadap museum nasional, kata kantor presiden Perancis dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

Wisatawan Jepang, Polandia, Spanyol dan Kolombia di antara mereka yang tewas dalam serangan yang pemerintah mengatakan bertujuan untuk menghancurkan industri pariwisata penting Tunisia, yang menghasilkan sekitar tujuh persen dari ekonomi.

Negara Islam telah mengklaim serangan Bardo meskipun pemerintah Tunisia mengatakan pejuang dari kelompok lokal, Okba Ibnu Nafaa, yang sebagian besar berpangkalan di pegunungan Chaambi berbatasan Aljazair terlibat.

Serangan Bardo menggarisbawahi bagaimana loyalitas militan Islam yang kabur karena mereka mencari cabang Afrika Utara baru, terutama di Libya, dimana kekacauan politik dan pertempuran antar faksi telah memungkinkan negara Islam untuk mendapatkan sebuah pos.

Pada hari Minggu, ribuan warga Tunisia mengambil bagian dalam pawai solidaritas dengan pemimpin Perancis Hollande dan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi diantara pejabat asing yang mengambil bagian dalam demonstrasi.

Empat tahun setelah "Musim Semi Arab" dimana pemberontakan terhadap Ben Ali terjadi, Tunisia telah dipuji oleh masyarakat internasional sebagai model transisi demokrasi dengan politik kompromi, konstitusi baru dan pemilihan umum yang bebas.

sumber: ZA
oleh: n3m0

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top