wartaperang - Polisi Turki menahan seorang wanita Perancis muda yang menyeberang kembali ke Turki setelah bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di negara tetangga Suriah, kata seorang pejabat keamanan, Kamis.

Selama tiga bulan tinggal di Suriah, wanita ini menikah dan kemudian berpisah dari militan dan dimasukkan ke dalam penjara yang dioperasikan oleh kelompok ISIS sebelum dibebaskan, kata pejabat itu.

Wanita bernama Sonia Belayati, 22 tahun, ditahan di sebuah terminal bus di provinsi Sanliurfa tenggara Selasa pagi setelah Perancis menyediakan pemerintah Turki dengan data intelejen, pejabat itu mengatakan kepada AFP tanpa menyebut nama.

Wanita itu telah terbang ke Istanbul pada bulan Maret dan kemudian menyeberang ke Suriah dan bergabung dengan ekstremis ISIS.

"Dia bekerja untuk organisasi teroris Daesh selama sekitar tiga bulan," kata pejabat itu, dengan menggunakan singkatan bahasa Arab untuk kelompok.

"Dia kemudian menikah dengan seorang pejuang asing tingkat tinggi di Daesh dan tinggal di Suriah," kata pejabat itu.

Wanita itu kemudian berpisah dengan pejuang itu dan ditahan di sebuah penjara ISIS di Suriah selama hampir satu bulan.

Setelah dibebaskan, dia secara ilegal melintasi perbatasan ke Sanliurfa di mana dia ditahan oleh pasukan keamanan.

Turki telah mulai melakukan prosedur deportasi bagi wanita, dengan sepengetahuan otoritas Perancis, tambah pejabat Turki.

Turki telah mendapat kecaman dari Barat atas aliran pejuang asing melalui perbatasan yang rapuh.

Tapi Ankara mengatakan mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menghentikan calon militan dari Eropa bergabung pejuang ISIS, yang telah menyita sejumlah bagian Suriah dan Irak.

Pemerintah mengatakan telah menempatkan lebih dari 13.500 warga asing - 18 persen di antaranya adalah asal Eropa atau Amerika Utara - dari 98 negara yang dimasukan dalam daftar hitam untuk menghentikan mereka bepergian untuk bergabung dengan ISIS.

Turki, yang berbagi perbatasan sejauh 1.300 kilometer (800 mil) dengan Irak dan Suriah, telah marah menolak kritik bila negara itu tidak berbuat cukup untuk menghentikan berlalunya militan.

Dikatakan mereka telah mendeportasi lebih dari 1.350 orang yang diduga berusaha bergabung dengan ISIS dan telah mendirikan badan khusus "pusat analisis risiko" di hub transportasi termasuk terminal bus dan bandara yang mengintrograsi wisatawan yang dicurigai.

Turki yang dipimpin oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, adalah seorang kritikus vokal dari Presiden Bashar al-Assad dan mengatakan keluarnya dia adalah kunci untuk memecahkan konflik Suriah selama empat tahun.

sumber: al-arabiya
oleh: n3m0

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top